Kebijakan Zero ODOL Perlu Didukung Dengan Peningkatan Infrastruktur

Kamis, 10 Oktober 2024

    Bagikan:
Penulis: Dharma Sakti
(Foto: Istimewa)

Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, yang membawahi bidang Angkutan Darat dan Kereta Api, Ian Sudiana menyatakan bahwa penerapan kebijakan Zero Over Dimension Overload (ODOL) akan menghadapi tantangan tanpa adanya perbaikan pada berbagai infrastruktur.

"Untuk mencapai penerapan Zero ODOL yang ideal, pemerintah perlu melakukan perbaikan infrastruktur terlebih dahulu. Tanpa perbaikan tersebut, pelaksanaan Zero ODOL akan menjadi sangat sulit," jelasnya.

Ian juga mengusulkan kepada pemerintahan yang baru agar membentuk Badan Logistik setingkat Kementerian. Badan ini diharapkan dapat menyusun rencana strategis logistik terkait kebijakan Zero ODOL serta mengkoordinasikan fungsi logistik secara lebih menyeluruh, termasuk dalam penerapan Zero ODOL yang memberikan solusi saling menguntungkan.

Badan ini perlu menyiapkan rencana awal sebelum menerapkan kebijakan Zero ODOL. Hal ini menunjukkan bahwa regulator, pemilik kargo atau produsen utama, serta penyedia layanan logistik harus memiliki pemahaman yang sama dalam pelaksanaan Zero ODOL. Oleh karena itu, tampaknya diperlukan waktu agar Zero ODOL dapat diimplementasikan dengan baik. Persiapan logistik yang matang sangat diperlukan.

Pembenahan yang dimaksud mencakup penambahan ruas jalan, peningkatan jumlah jalan nasional, peningkatan kapasitas daya dukung jalan, serta perbaikan moda transportasi alternatif. Selain itu, penataan industri, terutama yang tidak berada di kawasan industri, serta infrastruktur transportasi seperti kereta api dan laut juga sangat diperlukan.

Menurut Ian, masalah mengenai status dan fungsi jalan yang masih tidak teratur dan tidak jelas merupakan masalah klasik yang belum terpecahkan hingga saat ini. Ketika mengangkut barang dari pabrik menuju pelabuhan utama, truk-truk logistik pasti akan melewati berbagai jenis jalan, mulai dari jalan desa, kabupaten, kota, provinsi, hingga jalan arteri.

Oleh karena itu, untuk memastikan truk-truk berukuran besar dapat melintas, pemerintah perlu meningkatkan jumlah jalan nasional serta memperkuat daya dukung jalan tersebut, ungkapnya.

Sebagai contoh, moda transportasi kereta api saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pengangkutan barang logistik karena masih menerapkan sistem penjualan gerbong. Hal ini perlu diperbaiki. Selain itu, kapasitas gudang penyimpanan barang juga belum mencukupi untuk menampung barang dalam jumlah besar.

“Di stasiun-stasiun besar seperti Jakarta dan Surabaya, fasilitasnya masih belum memadai. Dari Jakarta menuju Surabaya, hanya ada dua titik yang benar-benar siap digunakan. Oleh karena itu, untuk menjadikan kereta api sebagai moda transportasi logistik yang efektif, perlu ada perubahan model dari penjualan ruang menjadi penjualan layanan. Penambahan gerbong, rel, dan kereta juga sangat diperlukan. Sistem harus sepenuhnya menggunakan jalur ganda. Selain itu, jumlah gerbong dan frekuensi pemberangkatan juga harus ditingkatkan,” jelas Ian.

(Dharma Sakti)

Baca Juga: Inovasi Jadi Kunci Ketangguhan Sektor IKFT Menuju Ekonomi 2026
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.