Jakarta - Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW yang dikebut pemerintah Indonesia menjadi perhatian serius investor global. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia untuk memastikan proyek ini dikemas dengan baik untuk menarik minat investor kelas dunia.
Menteri Bahlil mengungkapkan bahwa sudah ada beberapa investor besar dari Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat yang menyatakan ketertarikannya. Investor-investor ini melihat Indonesia sebagai pasar potensial dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan kebutuhan energi yang terus meningkat.
Pemerintah akan menyiapkan paket investasi yang komprehensif dan kompetitif. Beberapa skema yang ditawarkan termasuk build-operate-transfer, joint venture dengan BUMN, dan investasi langsung dengan insentif khusus untuk teknologi tinggi.
Aspek transfer teknologi menjadi poin penting dalam negosiasi dengan investor asing. Pemerintah akan memastikan bahwa investasi yang masuk tidak hanya membawa modal tetapi juga teknologi dan kapasitas yang dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusia Indonesia.
Proyek PLTS 100 GW juga akan dipromosikan dalam berbagai forum investasi internasional. Pemerintah akan secara aktif menawarkan peluang investasi ini dalam roadshow ke negara-negara yang memiliki komitmen kuat terhadap transisi energi.
Untuk memudahkan investor, pemerintah akan menyiapkan one-stop service khusus untuk investasi di sektor energi terbarukan. Layanan ini akan mempermudah proses perizinan dan koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait.
Potensi ekonomi dari proyek ini tidak hanya pada pembangkit listriknya sendiri, tetapi juga pada industri pendukungnya. Diperkirakan ribuan lapangan kerja baru akan tercipta, mulai dari manufacturing, konstruksi, hingga operasi dan pemeliharaan.
Dengan menarik investasi hijau global, Indonesia tidak hanya mendapatkan pembiayaan untuk proyek PLTS 100 GW tetapi juga memperkuat posisinya dalam peta investasi berkelanjutan dunia. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia menjadi pusat ekonomi hijau di kawasan Asia Tenggara.