RI Masih Menambah 6,3 Gigawatt PLTU Batu Bara Hingga Tahun 2034

Senin, 26 Mei 2025

    Bagikan:
Penulis: Samuel Irvanda
(Dok. PLN)

Indonesia akan melanjutkan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara dengan kapasitas sebesar 6,3 gigawatt (GW) dalam sepuluh tahun ke depan. Rencana penambahan kapasitas PLTU batu bara tersebut tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) untuk periode 2025-2034.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pembangunan PLTU batu bara tetap akan dilaksanakan oleh Indonesia karena adanya pergeseran tren transisi energi global. Ia juga menyinggung mengenai keputusan Amerika Serikat (AS) yang keluar dari Perjanjian Paris. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa komitmen untuk mengurangi penggunaan batu bara oleh negara lain semakin tidak pasti. "Oh, mereka saja sudah keluar dari [Perjanjian Paris]. Pertanyaan ini harus saya jawab dari sudut pandang geopolitik," jelas Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (26/5/2025). Bahlil menambahkan bahwa masih terdapat negara maju yang sering mengklaim akan menghentikan penggunaan batu bara. Namun, kenyataannya negara-negara tersebut masih memiliki kontrak jual beli batu bara dengan Indonesia. Oleh karena itu, Bahlil menegaskan agar pihak-pihak yang dimaksud tidak memaksa Republik Indonesia untuk menghentikan penggunaan batu bara. Meskipun demikian, Bahlil tidak merinci negara mana yang dimaksud. "Jika [negara tersebut] masih ingin [menggunakan] batu bara, mengapa mereka memaksa kita untuk tidak menggunakannya?" kata Bahlil. Dalam RUPTL 2025-2034, pemerintah dan PLN berencana untuk menambah kapasitas pembangkit listrik hingga 69,5 gigawatt (GW). Dari total kapasitas tersebut, 76% akan berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT). Komposisi pembangkit EBT mencapai 42,6 GW atau 61% dan penyimpanan 10,3 GW atau 15%. Pembangkit EBT terdiri dari energi surya sebesar 17,1 GW; air 11,7 GW; angin 7,2 GW; panas bumi 5,2 GW; bioenergi 0,9 GW; dan nuklir 0,5 GW. Sementara itu, untuk penyimpanan, akan berasal dari PLTA pumped storage sebesar 4,3 GW dan baterai 6 GW. Sebanyak 16 GW sisanya akan berasal dari pembangkit fosil, yaitu gas sebesar 10,3 GW dan batu bara 6,3 GW. Rencana penambahan 69,5 GW untuk pembangkit baru ini akan dibagi dalam dua periode atau tahap.

(Samuel Irvanda)

Baca Juga: Kebijakan Hijau Bahlil: Restrukturisasi Sektor Pertambangan Nasional
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.