Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), yang dikenal sebagai Harita Nickel, termasuk dalam kategori saham berkapitalisasi pasar menengah (mid cap) dengan harga yang relatif terjangkau. Potensi keuntungan dari saham NCKL diperkirakan melebihi 100%.
Berdasarkan informasi dari Stockbit Sekuritas, saat ini saham Harita Nickel (NCKL) diperdagangkan dengan rasio PE saat ini (TTM) sebesar 7,4 kali. Selain itu, return on equity (ROE) NCKL juga menunjukkan kinerja yang baik.
BRI Danareksa Sekuritas menyatakan bahwa laba Harita Nickel pada tahun ini diperkirakan akan meningkat, sejalan dengan akuisisi saham PT Obi Nickel Cobalt (ONC). Harita Nickel telah membeli 10% saham ONC dari Li Yuen Pte Ltd dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,1 triliun.
Ini merupakan akuisisi kedua yang dilakukan oleh Harita Nickel. Sebelumnya, pada tahun 2021, perusahaan yang terdaftar dengan kode saham NCKL ini juga telah membeli 10% saham dengan nilai Rp 628 miliar.
Dengan memiliki 20% saham, NCKL akan mengakui keuntungan ONC sebagai laba dari entitas yang berasosiasi. Selain itu, jika digabungkan dengan kepemilikan di PT Halmahera Persada Lygend (HPL), NCKL secara efektif memiliki kapasitas penyulingan HPAL (high pressure acid leaching) sebesar 37.800 ton.
BRI Danareksa Sekuritas telah melakukan revisi terhadap proyeksi bagian laba dari perusahaan asosiasi untuk tahun 2025 dan 2026, yang kini diperkirakan menjadi Rp 3,2 triliun dan Rp 3,3 triliun, meningkat dari estimasi sebelumnya yang masing-masing sebesar Rp 2,2 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Naura Reyhan Muchlis, dalam laporan riset mereka menyatakan bahwa proyeksi laba bersih NCKL telah meningkat secara signifikan menjadi Rp 8,7 triliun dan Rp 9,6 triliun, dibandingkan dengan angka sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 7,9 triliun dan Rp 9,6 triliun.
BRI Danareksa Sekuritas kembali menegaskan rekomendasi beli untuk saham NCKL, sejalan dengan pertumbuhan laba yang signifikan sebesar 31% year-on-year, yang didorong oleh peningkatan kapasitas dari ONC dan PT Karunia Permai Sentosa (KPS), serta pengelolaan biaya kas yang efisien dan kenaikan penjualan bijih nikel.
Selanjutnya, BRI Danareksa Sekuritas meningkatkan target harga saham NCKL menjadi Rp 1.500, naik dari sebelumnya Rp 1.400, dengan menggunakan metode penilaian sum of the parts (SOTP) dan discounted cash flow (DCF) untuk setiap proyek.
Target harga tersebut menunjukkan proyeksi PE untuk tahun 2025 sebesar 11 kali, dibandingkan dengan PE saat ini yang berada di angka 5,4 kali. Berdasarkan harga saham saat ini, potensi keuntungan dari saham NCKL cukup signifikan, yaitu lebih dari 100%, tepatnya mencapai 112%.
Risiko utama yang dihadapi adalah jika harga nikel dan tingkat utilisasi mengalami penurunan, serta adanya penundaan dalam pelaksanaan proyek.