Divestasi Vale: "Satu Tambang Asing Kembali Berada Di Bawah Kendali NKRI"

Kamis, 02 Januari 2025

    Bagikan:
  • " target="_blank">
Penulis: Samuel Irvanda
(Foto: VALE (REUTERS/Adriano Machado))

Pemerintah, melalui Holding BUMN Pertambangan MIND ID, secara resmi telah memperoleh kepemilikan saham mayoritas di PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Langkah ini diambil seiring dengan penandatanganan dokumen transaksi yang berkaitan dengan pengambilalihan saham divestasi sebesar 14% pada tahun 2024 ini. 

Divestasi saham Vale Indonesia menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian besar dan termasuk dalam Big Stories CNBC Indonesia pada tahun 2024. Untuk informasi lebih lengkap, simak ulasan berikutnya.

Sebenarnya, pengambilalihan saham perusahaan tambang asing di Indonesia bukanlah hal baru. Sebelumnya, pada tahun 2018, pemerintahan Presiden Jokowi juga berhasil menjadi pemilik saham mayoritas, yaitu 51,2% dari PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui MIND ID.

Divestasi Vale merupakan salah satu prasyarat untuk memperpanjang Kontrak Karya (KK) perusahaan yang akan berakhir pada Desember 2025 menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi saat itu, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa divestasi saham INCO menjadi indikator penting bagi program hilirisasi nikel Indonesia di masa mendatang. Hal ini terutama bertujuan untuk memenuhi kebutuhan produk turunan nikel di pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Luhut menjelaskan bahwa pihaknya baru saja kembali dari Amerika Serikat untuk membahas kebijakan pengurangan inflasi atau Inflation Reduction Act (IRA) dengan pemerintah AS. Kebijakan ini memberikan pengecualian insentif hijau bagi pabrik atau kendaraan listrik yang mendapatkan pasokan nikel dari Indonesia.

"Kami berharap hal ini dapat diselesaikan dalam waktu dekat, meskipun ada sedikit kendala akibat pemilu presiden di sana," ungkap Luhut pada acara penandatanganan Divestasi Vale Indonesia di Jakarta, yang dikutip pada Selasa (27/2/2024).

Lebih lanjut, Luhut juga mendorong agar program hilirisasi yang dijalankan oleh PT Vale dapat dipercepat. Hal ini penting mengingat program hilirisasi perusahaan masih tertinggal dibandingkan dengan perusahaan lain.

Meskipun demikian, ia mengakui bahwa Vale merupakan salah satu perusahaan nikel terbesar di Indonesia yang memiliki pengelolaan ESG yang baik.

"Oleh karena itu, tidak seharusnya ada komentar mengenai hilirisasi yang kami lakukan dari produk-produk sederhana. Dari sektor besi dan baja, kami berencana untuk memperluas hingga ke peralatan dapur yang dapat diproduksi di Indonesia. Dengan demikian, hilirisasi ini akan mencakup aspek yang sangat mendetail, dan saya percaya ini akan menciptakan lapangan kerja," ungkap Luhut.

Sebagaimana diketahui, MIND ID merupakan pemegang saham mayoritas dengan total kepemilikan sebesar 34%. Di sisi lain, VCL dan SMM masing-masing memiliki 33,9% dan 11,5%. Sementara itu, sekitar 20,6% masih dimiliki oleh publik melalui Bursa Efek Indonesia.

(Samuel Irvanda)

Baca Juga: Kebijakan Hijau Bahlil: Restrukturisasi Sektor Pertambangan Nasional
Tag

    Bagikan:
  • " target="_blank">

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.