Kepada Kemenpar, Tren Pariwisata Massal Telah Berlalu, Kini Saatnya Untuk Pariwisata Musik

Selasa, 27 Mei 2025

    Bagikan:
Penulis: Ava Grace
(Lugas/detikpop)

Dua band rock legendaris dunia akan tampil di Indonesia pada Oktober 2025. Ini merupakan kesempatan besar bagi Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan promosi pariwisata musik sekaligus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing melalui konser kelas dunia.

Dua band rock tersebut adalah Foo Fighters dan The Smashing Pumpkins. Berdasarkan jurnal penelitian Universitas Gajah Mada yang berjudul 'Potensi Pariwisata Musik Sebagai Alternatif Pariwisata Baru di Indonesia', yang ditulis oleh Aun Rahman, kedatangan dua band rock legendaris ini dapat menjadi peluang besar untuk menggerakkan ekonomi pariwisata. Hal ini disebabkan oleh potensi sektor pariwisata berbasis musik yang sangat menjanjikan.

Dalam penelitian tersebut, Java Jazz disebutkan sebagai salah satu festival jazz terbesar di dunia, yang menjadi contoh nyata bagaimana festival musik dapat menjadi daya tarik wisata yang kuat. Festival ini diselenggarakan selama tiga hari, dipadukan dengan bazar kuliner dan suvenir yang dihasilkan oleh UMKM.

Penelitian itu juga mengungkapkan bahwa konsep festival musik seperti Java Jazz dapat memberikan dampak nyata bagi pariwisata. Dampak tersebut meliputi efek ekonomi yang signifikan, peningkatan tingkat hunian hotel, serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Penelitian oleh Peny Meliaty Hutabarat dengan judul Potensi Wisata Musik di Indonesia: Festival Musik dan Perannya dalam City Branding juga dapat menjadi upaya untuk membangun citra kota.

"Kota-kota di Indonesia memiliki peluang besar untuk menggabungkan keindahan alam dengan festival musik sebagai nilai tambah dalam menarik wisatawan. Kelas menengah Indonesia yang terus berkembang menjadikan pariwisata sebagai bagian dari gaya hidup, dan ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar pariwisata musik," tulis Peny.

CEO Ravel Entertaiment, yang merupakan promotor yang membawa Foo Fighters ke Indonesia, Emmanulle Ravelius Donlad Junardy, setuju dengan penelitian tersebut. Berdasarkan pengalamannya sebagai penggerak festival musik metal terbesar di Asia Tenggara, Hammersonic Festival, yang merupakan acara tahunan bagi para penggemar metal, dia sangat menyadari potensi pariwisata dan ekonomi kreatif yang dapat dihasilkan dari festival musik.

Menurut Ravel, Hammersonic atau festival musik lainnya bukanlah sekadar acara musik biasa. Festival musik seharusnya dimanfaatkan secara maksimal sebagai sarana untuk mempromosikan keindahan yang dimiliki Indonesia.

"Tentu saja kami memiliki beberapa inisiatif seperti menghadirkan elemen-elemen budaya lokal dari area festival dan memberikan rekomendasi destinasi wisata di sekitarnya. Kami juga memperkenalkan budaya Indonesia kepada para artis yang kami undang," ujarnya.

"Selain itu, kami menjalin kerja sama dengan pihak-pihak lokal agar pengalaman para penonton internasional tidak hanya berhenti di panggung, tetapi juga meluas pada interaksi dengan budaya Indonesia," kata Ravel.

Untuk mewujudkan hal tersebut bukan tanpa tantangan. Dia menyatakan bahwa untuk menghidupkan ekosistem pariwisata musik, salah satu kendala yang dihadapi adalah kolaborasi lintas sektor. Dia menilai aspek tersebut sering kali tidak berjalan dengan optimal.

"Padahal potensi untuk bersinergi sangat besar. Selain itu, tantangan lainnya adalah terkait persepsi, masih ada yang memandang festival musik hanya sebagai hiburan semata, padahal terdapat nilai ekonomi dan budaya yang luar biasa di baliknya," kata Ravel saat dihubungi detiktravel.



(Ava Grace)

Baca Juga: Respons Transparan AirAsia Dan Citilink Soal Recall Airbus A320
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.