Wali Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Muhammad Aditya Mufti Ariffin, menyatakan bahwa Festival Ramadhan Banjarbaru (BRF) 2025 berfungsi sebagai media untuk melestarikan berbagai jenis kuliner tradisional.
"Kami berharap, BRF yang diselenggarakan setiap tahun selama bulan Ramadhan dapat menjadi wadah untuk melestarikan kuliner tradisional yang beragam," tuturnya setelah meresmikan BRF di Lapangan Dr Murdjani Banjarbaru pada hari Sabtu.
Menurut Aditya, selain berbagai jenis kue atau wadai tradisional yang ditawarkan oleh para pedagang di stan-stan, pengunjung juga dapat menikmati berbagai produk olahan dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Ia menjelaskan bahwa berbagai jenis wadai Banjar dapat ditemukan di stan pedagang, seperti Wadai Amparan Tatak, Putri Selat, dan Bingka, serta produk olahan dari pelaku UMKM seperti kue kering, tahu bakso, dan lain-lain.
"Kuliner tradisional atau wadai yang tersedia di BRF tentunya dapat menarik minat pengunjung untuk datang dan menikmatinya saat berbuka puasa dan sahur bersama keluarga," jelasnya.
Aditya juga mengharapkan bahwa kegiatan jual beli kuliner selama bulan Ramadhan di BRF dapat lebih meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi para pedagang yang berjualan di lokasi tersebut.
"Kami berharap pengunjung yang datang, baik dari Banjarbaru maupun dari luar daerah, dapat membuat BRF semakin ramai, sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat," ungkap Aditya.
Sri Lailana, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Banjarbaru, menyatakan bahwa terdapat 200 stan yang tersedia di BRF 2025, di mana 20 di antaranya merupakan stan UMKM.
"Untuk stan UMKM, tidak ada biaya yang dikenakan, sehingga mereka dapat berjualan sekaligus memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung selama pelaksanaan BRF," jelasnya.