Pemerintah Provinsi Jawa Timur Menyambut Positif Program Siap Siaga Yang Bertujuan Untuk Memperkuat Manajemen Bencana

Selasa, 03 September 2024

    Bagikan:
Penulis: Aqeela Inara
(Gambar: ANTARA/HO-Tim siap siaga)

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyambut positif pelaksanaan Program Siap Siaga, yang merupakan kolaborasi antara Australia dan Indonesia dalam manajemen risiko bencana. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Indonesia dalam pencegahan, persiapan, respons, dan pemulihan dari bencana.

Asisten 1 Sekretaris Daerah Jawa Timur, Benny Sampirwanto, menyampaikan di Surabaya pada hari Selasa bahwa provinsi ini menghadapi setidaknya 14 jenis ancaman bencana, dengan variasi tingkat kerentanan dan kapasitas di setiap daerah.

"Hasil dari Program Siap Siaga telah dirasakan oleh masyarakat di Jawa Timur. Selain membantu pemerintah daerah dalam pengawasan dan audit kebijakan penanganan bencana, program ini juga menekankan pentingnya inklusivitas, terutama bagi penyandang disabilitas," ujarnya dalam kegiatan pemantauan bersama Program Siap Siaga di Jawa Timur.

Ia menambahkan bahwa partisipasi penyandang disabilitas dalam program penanganan bencana sangat krusial, mengingat terdapat sekitar 17 ribu penyandang disabilitas di provinsi tersebut.

"Program Siap Siaga memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk memberikan masukan terkait program dan kebijakan pemerintah daerah dalam manajemen risiko bencana, sehingga langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah daerah menjadi lebih inklusif," tuturnya.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati, menekankan pentingnya kolaborasi Pentahelix. 

Pendekatan ini mendorong kerja sama melalui pertukaran pengetahuan, keahlian, dan pengalaman, serta membangun kepercayaan di antara para pemangku kepentingan, yang pada gilirannya menghasilkan solusi yang saling menguntungkan, terutama dalam konteks pengurangan risiko bencana dan ketahanan yang berkelanjutan.

"Program berbasis komunitas sangat diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana," ungkap Raditya.

Dia berharap, melalui misi pemantauan bersama ini, pembelajaran yang diperoleh di Jawa Timur dapat dijadikan model yang diterapkan di daerah lain di Indonesia, khususnya dalam meningkatkan daya lenting masyarakat untuk siap menghadapi bencana di masa mendatang.

"Kolaborasi inklusif juga telah dilaksanakan di Jawa Timur, dengan salah satu pencapaian terbarunya adalah pembentukan Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) pada 25 Juni 2024," tambahnya.

Di sisi lain, Kepala BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menilai misi pemantauan bersama sebagai kesempatan untuk merefleksikan hasil kolaborasi antara BPBD Jawa Timur dan Program Siap Siaga dalam membangun ketangguhan lokal berbasis komunitas melalui berbagai inisiatif.

"Provinsi Jawa Timur telah mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi bencana, baik pada tahap pra bencana, saat bencana, maupun pasca-bencana," ujarnya.

Menurutnya, langkah yang diambil adalah dengan memperkuat kelompok dan komunitas masyarakat, seperti komunitas desa, komunitas penyandang disabilitas, komunitas sepeda, komunitas motor, dan lain-lain.

Program Siap Siaga juga telah memberikan dukungan kepada BPBD dalam mempercepat pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur, jelasnya.

Lucy Dickinson, sebagai Team Leader Siap Siaga, menjelaskan bahwa kegiatan ini berfungsi sebagai platform bagi para pemangku kepentingan dari Pemerintah Australia dan Indonesia untuk menilai kinerja yang telah dilaksanakan oleh Siap Siaga di Jawa Timur serta mendiskusikan pencapaian dan pelajaran yang diperoleh bersama mitra dan pemangku kepentingan yang relevan.

(Aqeela Inara)

Baca Juga: Kementerian Desa Fokus Pada Pemberdayaan Perempuan Melalui Program TEKAD Di Indonesia Timur
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.