Jakarta - Banyak penumpang yang keliru mengira bahwa dengan buru-buru melompat dari kursi dan memaksakan diri ke depan, mereka akan keluar dari pesawat lebih cepat. Psikologi 'kutu lorong' ini didasari oleh ilusi efisiensi pribadi. Namun, menurut para ahli di kabin yaitu pramugari, logika tersebut salah besar. Justru, dengan bersikap tertib dan mengikuti prosedur, seluruh proses pengosongan pesawat akan berjalan lebih cepat, yang pada akhirnya juga menguntungkan setiap individu di dalamnya.
Efisiensi kolektif dalam pesawat mengikuti prinsip kerja sama, bukan kompetisi. Sistem turun bergiliran dari baris depan ke belakang dirancang agar alur penumpang seperti air yang mengalir, tanpa hambatan atau tabrakan. Ketika seorang 'kutu lorong' memotong alur ini, dia ibarat melemparkan batu besar ke dalam aliran air yang lancar; aliran itu terhambat, berbelok, dan akhirnya melambat untuk semua orang. Kerugian waktu kolektif yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada keuntungan beberapa detik yang didapat si pelaku.
Langkah pertama menuju efisiensi dimulai sebelum pesawat berhenti. Seperti disarankan pramugari Angela McMurray, merapikan dan mengumpulkan semua barang bawaan adalah investasi waktu yang sangat berharga. Penumpang yang sudah siap sedia dengan tas di pangkuan atau di tangannya, dapat segera bergerak ketika gilirannya tiba. Sebaliknya, penumpang yang baru membuka kompartemen overhead saat di depan antrean menciptakan 'bottleneck' atau kemacetan titik yang menghentikan seluruh barisan di belakangnya.
Baca Juga: Peran Wisatawan Thailand Dan Vietnam Dalam Pasar Pariwisata Angkor Wat Kamboja
Berdiri di lorong juga perlu strategi. Berdiri untuk meregangkan badan diperbolehkan, tetapi Angela menekankan untuk tetap di area kursi sendiri. Berdiri terlalu awal dan menghalangi lorong tidak membuat seseorang lebih dekat dengan pintu keluar; justru itu menghalangi penumpang di baris depan yang seharusnya sudah bergerak. Dengan tetap duduk atau berdiri di area sendiri hingga benar-benar bisa bergerak, penumpang memastikan lorong tetap terbuka untuk alur yang semestinya.
Bahkan hal kecil seperti memakai sepatu berkontribusi pada kecepatan. Penumpang yang memakai sepatu dapat berjalan dengan mantap dan percaya diri di lorong yang sempit, tanpa perlu ekstra hati-hati seperti mereka yang tanpa alas kaki. Langkah yang cepat dan pasti dari setiap individu akan terakumulasi menjadi penghematan waktu yang signifikan untuk seluruh pesawat.
Intinya, paradigma yang perlu diubah adalah dari "saya harus keluar duluan" menjadi "bagaimana kita semua bisa keluar lebih cepat". Perilaku 'kutu lorong' berakar pada mindset pertama yang egois dan kontra-produktif. Mindset kedua, yang kolaboratif, justru adalah kunci sesungguhnya untuk menghemat waktu semua orang, termasuk si pelaku sendiri jika dia mau berpikir jangka panjang.
Menerapkan tips efisiensi dari pramugari bukanlah tentang mengorbankan kepentingan pribadi, melainkan tentang memahami bahwa dalam ruang terbatas seperti kabin pesawat, kepentingan pribadi yang terbaik justru dicapai melalui kerjasama untuk kepentingan bersama. Dengan demikian, perjalanan yang efisien dan tanpa stres dapat terwujud.